Sagarichan.com on Facebook Sagarichan.com on G+ Sagarichan.com on Twitter

Pengertian, Sejarah, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia

Pengertian Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang penting untuk mempersatukan seluruh bangsa. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia merupakan alat mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tulis.

Kemahiran berbahasa Indonesia bagi mahasiswa Indonesia tercermin dalam tatapikir, tataucap, tatatulis, dan tatalaku berbahasa Indonesia dalam konteks ilmiah dan akademis. Oleh karena itu, bahasa Indonesia masuk dalam kelompok mata kuliah pengembangan kpribadian mahasiswa, yang kelak sebagai insan terpelajar akan terjun ke dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pemimpin.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang masih hidup tidak dapat menghindarkan diri dari tuntutan perkembangan masyarakat pemakainya. Hal ini senada dengan, apa yang disampaikan Aldi Firmansyah (Solo Pos, 22 Juli 2007) bahwa strategi bahasa agar tidak ditinggalkan oleh pemakainya, yaitu bahasa haruslah tetap terbuka dan dinamis bagi perkembangan zaman, tak terkecuali bagi bahasa Indonesia.

Sejarah Bahasa Indonesia

  • Sebelum Kemerdekaan
Bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Selama berabad-abad bahasa melayu dipakai sebagai alat perhubungan diantara penduduk Indonesiayang mempunyai bahasa yang berbeda. Bangsa asing yang datang ke Indonesia juga memakai bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Prasasti tertua yang ditulis dalam bahasa Melayu berasal dari abad ke-7. Masuknya Islam ke Indonesia sekitar abad ke-13. Tradisi penulisan bahasa Melayu dengan huruf Arab masih berlangsung sampai abad ke-19.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam kongres pemuda yang dihadiri oleh aktivis dari berbagai daerah di Indonesia, bahasa Melayu diubah namanya menjadi bahasa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional. Sebagai wujud perhatian yang besar terhadap bangsa Indonesia, pada tahun 1938 diselenggarakan Kongres bahasa Indonesia pertama di Solo.

Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang memberlakukan  pelarangan penggunaan bahasa Belanda. Pelarangan ini berdampak positif terhadap bahasa Indonesia dalam proses perkembangannya.

  • Sesudah Kemerdekaan
Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus ditetapkan Undang-Undang Dasar 1945 yang di dalamnya terdapat pasal, yaitu pasal 36, yang menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.” Pada era globalisasi saat ini, bahasa Indonesia berkembang seiring dengan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Semakin banyak orang Indonesia yang belajar dan menguasai bahasa Inggris tentu saja merupakan hal yang positif dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi.



Kedudukan Bahasa Indonesia
Melalui sejarah perjalanan yang panjang, bahasa Indonesia terlah mencapai perkembangan yang luar biasa, baik dari segi jumlah penggunanya, maupun dari segi sistem, tata bahasa dan kosakata, serta maknanya. Sekarang bahasa Indonesia telah menjadi bahasa besar yang digunakan dan dipelajari tidak hanya di seluruh Indonesia tetapi juga di banyak negara.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia 

  • Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

  • Bahasa Indonesia sebagai Lambang Kebanggaan Nasional
Tidak semua bangsa di dunia mempunyai sebuah bahasa nasional yang dipakai secara luas dan dijunjung tinggi. Adanya bahasa yang dapat menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

  • Bahasa Indonesia sebagai Lambang Identitas Nasional
Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya dan bahasanya berbeda. Untuk membangun kepercayaan diri yang kuat, sebuah bangsa memerlukan identitas. Identitas bangsa Indonesia diwujudkan melalui bahasa, yaitu bahasa Indonesia.

  • Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Berbagai Suku Bangsa
Sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya dan bahasanya berbeda akan mengalami masalah besar dalam melangsungkan kehidupannya. Dengan adanya bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa nasional pepecahan tersebut dapat dihindari karena suku-suku bangsa tersebut merasa satu.

  • Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan Antardaerah dan Antarbudaya
Masalah yang dihadapi bangsa terdiri atas berbagai suku bangsa dengan budaya yang berbeda adalah komunikasi. Dengan adanya bahasa Indonesia menjadi jawaban dari adanya kebutuhan ini. Sudah berabad-abad bahasa ini menjadi lingua franca di Indonesia.


Sumber : Dosen mata kuliah bahasa indonesia saga

0 komentar :

Silahkan meninggalkan komentar berupa pertanyaan atau hal sejenisnya,
ingat jika admin mengira itu adalah junk comment maka akan dihapus

Metode menghafal Kode warna resistor




MENGHAFAL URUTAN KODE WARNA RESISTOR.

Menghafal ada cara untuk melatih kemampuan ingatan buatan. Pada otak manusia ada 2 jenis ingatan, ingatan alami dan ingatan buatan. Ingatan alami adalah bakat yang sudah ada sejak kita lahir, dan digunakan kan dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis tanpa perlu berpikir. Sedangkan ingatan buatan adalah sebuah kemampuan daya ingat yang di bangun dengan cara belajar dan dilatih dengan berbagai macam metode.
Salah satu metode yang paling efektif untuk melatih daya ingat buatan adalah Strategi Mnemonik, yaitu teknik mengingat sesuatu dengan cara menghubungkan antara bentuk/rumusan yang mudah diingat dengan data yang ingin diingat. Hal ini berdasarkan prinsip bahwa ingatan manusia akan lebih mudah mengingat informasi yang unik dan menarik, ketimbang data-data yang rumit dan asing.

Dari sekian banyak strategi Mnemonik yang ada, beberapa diantaranya dapat kita manfaatkan untuk menghafal urutan warna kode Resistor.

1. Rumus Jembatan Keledai.

Rumus Jembatan keledai umumnya berupa sebuah kata atau suku kata yang diambil dari susunan kata yang ingin di hafal, kemudian dibentuk menjadi sebuah kalimat yang unik atau menarik.
Sebenarnya kurang jelas, dari mana asal mula Istilah jembatan keledai ini. tapi kemungkinan besar berasal dari bahasa Belanda Ezelsbruggetje yang berarti titian keledai atau dari bahasa Latin pons asinorum yang artinya jembatan keledai.

Berikut adalah bentuk dari rumus Jembatan Keledai yang akan kita gunakan untuk menghafal urutan kode warna Resistor.

Rumus ini membentuk sebuah kalimat HI CO ME O KU  HI BI VI A PU, yang diambil dari singkatan nama masing-masing warna yang terdapat pada sistem kode warna Resistor.

HI = Hitam, ME = Merah, O = Oranye, KU = Kuning, HI yang kedua = Hijau, BI = Biru, VI = Violet atau Ungu, A = Abu-abu, dan PU = Putih.

Cara menggunakan rumus ini cukup mudah, kita hanya perlu menghafal kalimatnya, serta  membayangkan arti dan angka yang ada di bawah setiap kata, dalam kalimat tersebut.


2. Menggunakan Gambar angka berwarna.

Dengan cara ini, kita akan melatih ingatan kita untuk menghafal urutan kode warna menggunakan gambar angka berwarna, seperti  di bawah ini :

Cara menggunakan metode ini adalah, menyebutkan warna angka yang ada dalam kotak. Satu persatu secara berulang-ulang. Sekali lagi, yang disebutkan warna angkanya, bukan angkanya.







3. Menggunakan Rumus Pengelompokan warna. [dicopy dari mrhbelectronicservice.blogspot.com]

Metode ini terbilang cukup rumit, karena kita akan mempelajari pengelompokan warna terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan urutan warna kode resistor.

Pengelompokan warna pertama kali dikemukakan pada tahun 1831, namanya Teori Brewster. Teori ini menyederhanakan warna yang ada di alam dengan membaginya menjadi 4 kelompok besar, yaitu :

    Warna Primer. Warna dasar yang bukan merupakan hasil pencampuran dari warna-warna lain, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru.
    Warna Sekunder. Hasil pencampuran dari  2 warna Primer. Ada berapa macam warna sekunder, dan yang ada hubungannya dengan kode warna Resistor ada 3 warna yaitu : Oranye ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Merah ), Hijau ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Biru ) , dan Ungu ( Hasil pencampuran dari warna Merah dengan Biru ).
    Warna Tersier. Hasil pencampuran salah satu warna Primer dengan salah satu warna Sekunder atau pencampuran dari tiga warna Primer. Warna dari kelompok ini juga bayak, tapi yang termasuk dalam sistem kode warna Resistor hanya ada satu, yaitu warna Coklat ( pencampuran dari warna Merah, Kuning, dan Biru ).
    Warna Netral. Warna penyeimbang, yaitu warna Hitam dan Putih dan hasil pencampuran dari keduanya. Warna Netral sering juga disebut Warna yang tidak berwarna.

Dan satu lagi kelompok warna  yang akan kita gunakan dalam rumus ini, tapi tidak termasuk dalam teori Brewster, yaitu kelompok warna metalik. Kelompok warna metalik terdiri dari Warna Emas, Perak dan  hasil pencampuran 2 warna tersebut dengan warna-warna dari kelompok lainnya.

Jadi berdasarkan kelompok-kelompok warna di atas, dalam rumus ini, kita akan membagi kode warna Resistor menjadi 5 Grup. Seperti berikut ini :

Grup 1 dari kelompok warna primer, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru.
Grup 2 dari kelompok warna sekunder, yaitu : Warna Oranye, Hijau, dan Ungu.
Grup 3 dari kelompok warna Tersier, yaitu : warna Coklat.
Grup 4 dari kelompok warna, Netral yaitu : Warna Hitam, putih, dan Abu-abu.
Grup 5 dari kelompok warna Metalik, yaitu : Warna Emas dan Perak.

Dengan pembagian Grup seperti ini, kita bisa lebih mudah menghafal kode warna Resistor. Karena setiap grup mempunyai ciri khas.

Grup1 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Genap, kecuali angka 8.
Grup2 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Ganjil, kecuali angka 9.
Grup3 kode warna resistor yang memiliki angka tunggal, yaitu Coklat ( angka 1 ).
Grup4 terdiri dari kode warna Resistor urutan awal ( warna Hitam ) dan 2 kode warna Resistor urutan terakhir ( warna Abu-abu dan Putih ).
Grup5 hanya untuk kode warna toleransi resistor, dan kode warna per kalian desimal yang memiliki angka di bawah nol ( nol koma dan nol koma nol ).

Cara menghafal urutan warna dari masing-masing Grup :

Grup 1. Membayangkan sebuah jarum yang dibakar di atas api lilin. Warna Merah adalah warna ujung jarum yang membara, warna Kuning adalah warna api lilin bagian atas, dan warna Biru warna api lilin bagian bawah. Jadi urutan warnanya dimulai dari atas ke bawah.

Grup 2. Membayangkan sedang mencampur warna-warna yang ada pada Grup1 secara berurutan. Urutan pertama, hasil dari pencampuran warna urutan pertama dan kedua warna Grup1. Urutan kedua, hasil dari pencampuran warna urutan kedua dan ketiga warna Grup1.  warna ketiga, hasil dari pencampuran warna ketiga dan pertama warna grup1.
Rumus nya, 1 Grup2 = 1 + 2 Grup1,  2 Grup2 = 2 + 3 Grup 1,  3 Grup2 = 3 + 1 Grup1.

Grup 3. Tidak perlu membayangkan apa-apa, karena hanya ada satu warna. Yang perlu di ingat adalah Grup ini memiliki jumlah anggota sama dengan angka kode warnanya, yaitu 1.

Grup 4. Mengingat pepatah yang mengatakan  Habis Gelap Terbitlah Terang. Maka urutannya dimulai dari warna yang paling gelap, ke warna yang paling terang.

Grup 5. Membayangkan perbandingan harga benda yang memiliki warna yang sama dengan anggota Grup ini. Urutannya dimulai dari harga yang ter tinggi.


0 komentar :

Silahkan meninggalkan komentar berupa pertanyaan atau hal sejenisnya,
ingat jika admin mengira itu adalah junk comment maka akan dihapus

Cara menghitung nilai Resistor

Resistor adalah suatu komponen elektronika yang fungsinya untuk menghambat arus listrik. Resistor yang ada dipasaran memiliki ukuran daya dan nilai resistansi. Nilai daya resistor yang ada dipasaran diantaranya 1/16W, 1/8W, 1/4 W, 1/2W, 1W, 2W, 5W, 10W dan 20W. Sedangkan nilai resistansi suatu resistor dituliskan dengan 2 cara, untuk resistor dengan ukuran fisik besar dan resistor dengan fisik SMD dituliskan dengan kode angka dipermukaan fisiknya. Sedangkan untuk resistor dengan ukuran fisik kecil sering dituliskan dengan kode warna. Kode warna dalam elektronika merupakan salah satu teknik penulisan nilai suatu komponen elektronika dengan warna. Warna-warna yang ada dalam kode warna untuk penulisan resistansi resistor adalah: 

Pada suatu resistor cara penulisan nilai resistansi dengan kode warna ada 3 macam cara penulisan. Yaitu dengan penulisan kode warna 4 ring, 5 ring dan 6 ring warna. Perbedaan cara penulisan nilai resistansi dengan kode warna dalam resistor tersebut memiliki cara pembacaan yang berbeda pula. Berikut cara pembacaan cincin kode warna dalam resistor.




Membaca Kode Warna Resistor 4 Ring Untuk kode warna resistor 4 ring, ring warna ke 1 sampai 2 merupakan angka pertama dan kedua kemudian ring ke 3 merupakan faktor pengali sedangkan ring ke 4 merupakan nilai toleransinya. Sebagai contoh resistor 2,2KOhm 5% maka penulisan dengan 4 ring warna adalah : Merah, Merah, Merah dan Emas

Membaca Kode Warna Resistor 5 Ring Untuk kode warna resistor 5 ring, ring warna ke 1 sampai 3 merupakan angka pertama, kedua dan ketiga kemudian ring ke 4 merupakan faktor pengali sedangkan ring ke 5 merupakan nilai toleransinya. Sebagai contoh resistor 2,2KOhm 1% maka penulisan dengan 5 ring warna adalah : Merah, Merah, Hitam, Coklat dan Coklat

Membaca Kode Warna Resistor 6 Ring Untuk pembacaan nilai resistansi pada 6 ring warna sama dengan pada 5 ring warna , hanya pada ring warna ke 6 merupakan nilai koefisien suhu dari reistor tersebut. Untuk kode warna resistor 6 ring, ring warna ke 1 sampai 3 merupakan angka pertama, kedua dan ketiga kemudian ring ke 4 merupakan faktor pengali sedangkan ring ke 5 merupakan nilai toleransinya. Sebagai contoh resistor 2,2KOhm 1% 100ppm maka penulisan dengan 6 ring warna adalah : Merah, Merah, Hitam, Coklat, Coklat dan Coklat.


Contoh cara membaca kode warna resistor 4 ring

Warna Coklat = 1
Warna Hitam  = 0
Warna hijau    = 10^5
Warna Emas  = Nilai toleransi 5%
Nilai Resistor = 10 x 10^5
                         =  1,000,000 = 1 mega = 1m
                         = 1m ohm toleransi 5%

Warna Kuning   =  4
Warna Ungu      =  7
Warna Perak     =  x  0,01
Warna Emas      =  Toleransi 5%
Nilai Resistor     =  47 x 0,01
                          = 0,47 ohm toleransi 5%


Cara menghitung rangkaian Seri


RUMUS = RTotal = R1 + R2 + … Rn

RTotal = Resistansi total
R1 = Resistor ke-1
R2 = Resistor ke-2
Rn = Resistor ke-n

Contoh:
Jika terdapat R1 = 10 , R1 = 20 , dan R3 = 100  kemudian dipasangsecara  berderet (seri) maka resistansi totalnya adalah:
RTotal = R1 + R2 + R3
RTotal = 10 + 20 + 100
RTotal = 130 ohm


Cara menghitung rangkaian Paralel


Pada rangkaian paralel, semua resitor dihubungkan sejajar (paralel). Nilai resistansi total pada rangkaian paralel tidak akan melebihi resistansi dari resistor terkecil pada rangkaian tersebut.

RUMUS = 1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 + … 1/Rn

Contoh:
Jika terdapat tiga buah resistor dengan masing-masing nilai R1 = 3 , R2 = 2 , R3 = 6 kemudian dipasang paralel, maka resistansi totalnya adalah sebagai berikut:

1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 +1/R3
1/RTotal = 1/3 + 1/2 + 1/6
1/RTotal = 2/6 + 3/6 + 1/6
1/RTotal = 6/6
RTotal =1/(1/1)
RTotal =1 ohm



Cara Menghitung rangkaian Seri-paralel

Rangkaian resistor seri-paralel adalah gabungan dari rangkaian seri dan rangkaian paralel. Oleh karena itu untuk menghitung resistor pada rangkaian seri-paralel harus dipahami dulu bagaimana resistor-resistor tersebut dihubung. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penghitungan mana yang akan didahulukan. Pada gambar di bawah yang didahulukan adalah menghitung bagian paralel yakni R1 dan Rn (R1//Rn) sedang pada gambar di bawahnya yang didahulukan adalah menghitung bagian seri yakni R1 dan R2 (R1+R2).

Contoh 1:
Jika R1 = 200 , R2 = 50 , dan Rn =50 , maka cara menghitung resistor totalnya adalah sebagai berikut:
RTotal = R1 + (R2//Rn) baca: Resistansi total sama dengan R1 diserikan dengan R2 yang dipalalel dengan Rn. Artinya penghitungan paralel antara R2 dan Rn didahulukan.

RP = R1//Rn  (tanda “//” artinya paralel, jadi gunakan rumus perhitungan resistor paralel)
1/RP = 1/R1 + 1/Rn
1/RP = 1/50 + 1/50
1/RP = 2/50
RP = 50/2 = 25 ohm

Setelah hasil sementara RP diketahui, selanjutnya jumlahkan (diserikan) dengan R1.
RTotal = R1 + (R2//Rn)
RTotal = R1 + RP
RTotal = 200 + 25
RTotal = 225 ohm



Menghitung rangkaian Seri-paralel

 


Contoh 2:
Untuk menghitung resistansi total dari rangkaian seri-paralel di atas, lakukan penghitungan pada rangkaian seri terlebih dahulu yaitu R1 dan R2, selanjutnya diparalelkan dengan Rn. Jika pada gambar di atas R1=50 , R2 = 150 , dan Rn =200 , maka cara menghitung resistor totalnya adalah sebagi berikut:

RTotal = (R1 + R2) // Rn) baca: R1 diserikan dengan R2 kemudian diparalel dengan Rn
RS = R1 + R2
RS = 50 + 150
RS = 200 ohm

Setelah hasil sementara Rs diketahui, selanjutnya paralelkan dengan Rn.
RTotal = (R1 + R2) // Rn
RTotal = RS // Rn
1/RTotal = 1/R1 + 1/Rn
1/RTotal = 1/200 + 1/200
1/RTotal = 2/200
RTotal = 200/2
1/RTotal = 100 ohm


Catatan:
    Untuk menghitung resistansi total, maka satuan setiap resistor yang terhubung harus sama.
    Tanda “+” adalah diseri dan tanda “//” adalah diparalel



di sadur dan di edit dari beberapa sumber
elektronika-dasar.web.id
resistor777.blogspot.com
blog-smkmadu.blogspot.com

4 komentar :

Silahkan meninggalkan komentar berupa pertanyaan atau hal sejenisnya,
ingat jika admin mengira itu adalah junk comment maka akan dihapus

Copyright © 2012, Edited By Sagari chan